Efek Psikologis Bahaya Riba

Adil & Menentramkan...🙂

Berapa banyak riba telah menghancurkan rumah-rumah yang sebelumnya ramai. Berapa banyak riba telah membuat orang yang kaya menjadi miskin. Berapa banyak riba telah menyebabkan pemilik menjadi orang yang dimiliki.

Berapa banyak orang yang bergelar dan menyandang kemuliaan dan kehormatan menjadi merugi dalam kehinaan, kefakiran, dan lilitan kebutuhan, padahal sebelumnya ia selalu bergelimang kenikmatan, kemuliaan, dan kemewahan.

Riba adalah musibah yang besar, penyakit yang berbahaya, virus yang ganas, dan pembunuh yang sadis. Seseorang yang melakukan praktik riba sesungguhnya sedang berlomba menuju kepada kefakiran dan lilitan kebutuhan. Ia juga akan jatuh ke jurang musibah yang dahsyat dan kesedihan yang tiada henti.

Tidak pelak lagi, seseorang yang sebelumnya berada dalam kelonggaran rizki, keadaan yang baik, dan kondisi yang nikmat, lalu kemudian tiba-tiba menjadi hina, miskin, yang selalu mengeluh akan kehidupannya. Kesusahan itu baginya dirasakan lebih sempit daripada lubang jarum. Sore dan pagi selalu diliputi kesedihan. Pagi dan sore selalu berpikir dengan penuh penyesalan.

Dalam keadaan seperti itu, hati seseorang akan menjadi gundah, perasaannya tak menentu, dan pikirannya melayang kemana-mana. Dengan ungkapan yang lain, ia tak ubahnya seperti orang-orang yang telah mati. Allah SWT berfirman sbb :

” Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang beriman. Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu ; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS Al Baqarah (2) : 278-279).

Nabi Muhammad SAW bersabda, ” Allah melaknati pemakan barang riba, barang yang dimakan dari hasil riba, pencatat transaksi riba, dan orang yang menjadi transaksi riba.”

Lihatlah murka Allah SWT dan RasulNya itu kepada semua yang terlibat dalam praktik riba, seperti pencatat dan saksi praktik riba, terlebih lagi pemberi dan pengambil riba.

Muhammad Abduh menuliskan tentang riba sbb :

“Riba menumbuhkan sikap pada diri seseorang untuk tidak merasa perlu dengan pemberian-pemberian Allah yang diberikan kepadanya. Ia juga menyebabkan manusia malas bekerja dan tidak berusaha mencari penghidupan di bumi dengan cara berdagang, bercocok tanam, atau membuka perindustrian. Karena jika seseorang melihat bahwa dengan menyimpan uang di bank memperoleh hasil yang cukup memadari dari membungakan uangnya tanpa perlu bersusah payah, maka ia akan meninggalkan dunia kerja, lalu dibelenggu oleh rasa malas dan tidak mau berusaha.

Dengan begitu, ia telah menjadi anggota masyarakat yang merusak lingkungan sosialnya, tidak punya pekerjaan dan tidak punya manfaat sama sekali.

Ketika riba sudah banyak tersebar di mana-mana, berarti banyak pula anggota-anggota masyarakat yang bersifat perusak di dalamnya. Setelah hal itu terjadi dalam tubuh umat, maka keropos dan hilanglah kekuatan tubuh umat.”

Jika orang kaya yang mau membantu orang-orang fakir yang sedang kesulitan dalam urusan penghidupan mereka, tanpa ada embel-embel bunga, tentu akan dapat melunakkan hati yang sedang kacau karena masalah ekonomi serta dapat memperkuat tali cinta kasih sesama manusia. Manakala masalahnya seperti itu, keamanan akan menaungi seluruh negeri dan keberadaan semua masyarakat menjadi teratur.

Jika seorang kaya tidak memberikan hartanya pada orang-orang fakir kecuali dengan cara riba, maka sikap seperti itu akan melahirkan kedengkian dan iri hati dari orang-orang yang sedang dililit kebutuhan. Sikap yang demikian juga mengakibatkan terputusnya hal-hal yang baik. Mereka tidak akan segan merampok harta orang-orang kaya dengan segala cara yang mungkin bisa dilakukan. Bukti mengenai semua itu adalah merebaknya kejahatan-kejahatan pencurian, perampasan, perampokan, adanya sikap individualisme, kapitalisme, dan anarkisme yang muncul di Eropa. Perilaku riba telah menimbulkan kerusakan luar biasa pada kemaslahatan dunia, dan pada saat yang bersamaan kaum Yahudi adalah komunitas pelaku bisnis riba yang merambah hampir ke semua penjuru dunia.

Karenanya Nabi Muhammad SAW pada masa lalu membuat perjanjian dan kesanggupan umat Islam agar tidak melakukan transaksi atau praktik riba di Jazirah Arab.

Karena, tempat-tempat suci merupakan tanah kelahiran Nabi Muhammad SAW, tempat agama ini pertama kalinya muncul serta tempat matahari keyakinan mulai terbit.

Dan masa modern saat ini terbukti riba ibarat pusaran arus yang menyebabkan orang yang terseret di dalamnya menjadi binasa baik dunia maupun akhirat.

Bagaimana solusi dan lawan dari riba? Umat Islam mesti menggalakkan perniagaan yang terbebas dari riba, sehingga menjadi umat yang merdeka dari sisi finansial. Sehingga tidak melulu di bawah ketiak kapitalisme Yahudi. Allah SWT berfirman sbb :

” Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS Al Baqarah (2) : 275)

wallahu ‘alam

sumber : Kemukjizatan Psikoterapi Islam (Hisham Thalbah….(et al),Sapta Sentosa 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s